Ekspor Kayu dan Furniture Sumut Anjlok


Ekspor Kayu dan Furniture Sumut Anjlok

 

Medan, (Analisa). Ekspor kayu dan barang dari kayu (furniture) Sumut ajlok disebabkan para eksportir maupun importir di berbagai negara tujuan, kini takut bertransaksi disebabkan peraturan yang semakin ketat dan adanya ancaman dari berbagai kelompok lingkungan hidup dunia.

Hal ini terungkap pada acara bimbingan teknis strategi pemantapan daya saing ekspor yang digelar Direktorat Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Kementerian Perdagangan RI bekerjasama dengan Disperindag Sumut di Hotel Dharma Deli Medan, Kamis (22/9).

Kasubdis Kehutanan Direktorat Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Kementerian Perdagangan RI, Yohanna SH mengungkapkan, ekspor kayu dan barang dari kayu Indonesia diperkirakan akan semakin anjlok kalau tidak segera dicari solusi terbaik untuk dapat kembali memacunya.

Dikatakan, sesuai Surat Keputusan Menteri Perdagangan RI No.2/2008, yang boleh diekspor saat ini hanyalah kayu olahan dan berbagai jenis barang kerajinan dari kayu (furniture), dampaknya tentu saja nilai ekspor menjadi sangat terbatas.

Khusus untuk Sumut ekspor kayu dan barang dari kayu periode Januari-Juli 2011, ungkap Kadisperindagsu diwakili Sekretaris Disperindagsu, Ir Elizar Pulungan M.Si, tercatat hanya 110. 274 ton dengan nilai 115.605 USD.

Ini berarti mengalami penurunan hampir 5 persen dibandingkan periode Januari-Juli 2010 yang nilai ekspornya mencapai 113.719 ton meskipun dengan nilai lebih rendah 110.341 USD.173 Perusahaan

Adapun jumlah Etpik dan jenis industri perkayuan di Sumut terdiri dari furniture tercatat 36 perusahaan, kayu gergajian 4 perusahaan, kayu lapis (panen kayu) 4 perusahaan, kayu olahan 121 perusahaan dan kerajinan 8 perusahaan. Dengan total keseluruhan 173 perusahaan.

Sementara permasalahan yang dihadapi dalam ekspor kayu (domestik) antara lain peningkatan permintaan kayu nampaknya belum bisa dimanfaatkan pengusaha karena eksportir mengaku kesulitan mendapatkan bahan baku.

Dikatakan, sejak isu lingkungan merebak, khususnya menyangkut kayu ilegal, ekspor kayu dan barang dari kayu Sumut juga merosot disebabkan eksportir dan importir sama-sama merasa takut untuk bertransaksi.

Selain itu, terjadinya pemekaran daerah pemilik hutan penghasil kayu di 17 kabupaten se-Sumut termasuk Tapanuli Selatan (Tapsel), Labuhan Batu, Asahan, Nias, Dairi, Asahan dan Tapanuli Utara (Taput), secara langsung mengurangi daerah penghasil kayu sebagai bahan baku industri.

Begitu pula kondisi jalan dari sumber bahan baku menuju lokasi pengolahan sejauh ini kurang mendukung, disamping kerusakan jembatan-jembatan memperlambat penyampaian bahan baku ke pabrik, birokrasi berbelit dan energi listrik minim menghambat kelancaran proses pengolahan kayu, sehingga pada gilirannya kalah bersaing dengan China, Vietnam dan Malaysia.

Untuk mengatasi semakin anjloknya jumlah maupun nilai ekspor kayu dan barang dari kayu, disarankan isu lingkungan semaksimal mungkin bisa ditekan agar perdagangannya bisa pulih lagi mengingat potensi pasar masih cukup luas, termasuk ke Eropa.

Kemudian dinilai perlu peningkatan kesadaran para pengusaha untuk mendapatkan sertifikat legalitas, supaya ekspor tidak lagi terganggu. Hal ini terkait dengan kesadaran yang semakin tinggi akan pentingnya keasrian lingkungan hidup, sehingga membuat negara-negara importir kayu membuat beberapa kebijakan tegas untuk menahan masuknya kayu atau produk dari kayu ilegal. (rama)

 

 

Sumber: http://www.analisadaily.com/news/read/2011/09/23/14089/ekspor_kayu_dan_furniture_sumut_anjlok/#.TnwwaOzFCSw

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s